INTEGRASI TRANSPORTASI PERKOTAAN UNTUK MENDUKUNG DESTINASI WISATA KOTA YOGYAKARTA
Main Article Content
Abstract
Destinasi Wisata, khususnya di Kota Yogyakarta, selama ini hanya berpusat diarea Malioboro dan
sekitarnya, akibatnya berbagai potensi daerah semisal obyek wisata berupa museum dan kampung wisata
cenderung terlewatkan karena kurang dikenal dan tidak ada media moda transportasi khususnya
transportasi tradisional yang melalui rute-rute menuju obyek wisata tersebut. Sebagaimana kita ketahui,
bahwasannya di kota Yogyakarta terdapat berbagai moda transportasi yang sebenarnya memiliki potensi
yang mampu berperan aktif atas kebangkitan pariwisata di Kota Yogyakarta, semisal: moda transportasi
bertrayek (Trans Jogja, Si Thole, DAMRI, Coffee on The Bus), transportasi dengan tenaga penguat
(Becak Listrik) dan transportasi tradisional (Becak kayuh, andong dan sepeda). Trayek berupa jalur/rute
yang menghubungkan antara satu obyek wisata dengan obyek wisata yang lain, lebih memberikan
efektifitas didalam penggunaan dan pemilihan sarana transportasi yang disesuaikan dengan keinginan
dan kemampuan dari wisatawan. Penerapan tarif dasar, dilakukan dengan cara perhitungan tarif
transportasi tradisional dalam setiap jamnya (berdasarkan wawancara), sehingga nantinya mampu
diterapkan range tarif minimal dan maksimal didalam pelaksanaan rute-rute tersebut. Selain itu promosi
atas beberapa obyek wisata baru yang dapat dilakukan dengan santai dan tidak memungkinkan ditempuh
dengan andong/becak, maka dilakukan dengan sepeda, sebagaimana rute-rute Gowes Kota Yogyakarta
didalam aplikasi JSS (Jogja Smart Service), yakni: rute romansa Kota Lawas, rute Tilik Jeron Beteng,
rute Jelajah Kampung Susur Sungai dan rute Taman Pintar
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.